JAKARTA - Menjelang bulan Ramadhan dan Idul Fitri 2026, stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi perhatian utama pemerintah.
Lonjakan permintaan yang lazim terjadi setiap tahun kerap memicu kenaikan harga di berbagai daerah. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah tegas dengan memberikan instruksi langsung kepada jajaran kabinetnya.
Fokus utama pemerintah adalah memastikan masyarakat dapat menjalani ibadah puasa dan merayakan Lebaran tanpa terbebani kenaikan harga sembako. Selain ketersediaan pasokan, aspek keterjangkauan harga juga menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.
Instruksi Presiden Jaga Harga Sembako
Presiden Prabowo Subianto memerintahkan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) agar harga sembilan bahan pokok (sembako) tidak boleh naik selama bulan Ramadhan sampai dengan Lebaran.
Instruksi tersebut menjadi penegasan komitmen pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan konsumsi selama periode hari besar keagamaan.
Oleh karena itu, Prabowo memerintahkan Zulhas untuk berkeliling turun langsung ke daerah-daerah mengecek ketersediaan pangan, sekaligus harga-harga pangan dan sembako tetap terjangkau untuk masyarakat.
"Saya diperintah untuk keliling ya memastikan pangan, MBG (makan bergizi gratis), Kopdes (Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih). Kemudian, pengolahan sampah berlangsung dengan baik dan tentu sembako (selama) puasa dan lebaran ini harus tersedia, terjangkau, dan harga tidak boleh naik," kata Menko Pangan menjawab pertanyaan wartawan saat ditemui selepas rapat di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pengawasan tidak hanya dilakukan di tingkat pusat, tetapi juga secara langsung di lapangan. Pemerintah ingin memastikan distribusi berjalan lancar dan tidak ada hambatan yang menyebabkan kelangkaan atau spekulasi harga.
Pemantauan Ketat Stok Pangan
Selain memastikan harga tetap stabil, Presiden juga menekankan pentingnya pengawasan stok pangan secara menyeluruh.
Zulhas juga menyampaikan dalam rapat tersebut Presiden Prabowo juga memerintahkan stok pangan dimonitor secara ketat.
"Ya kami memastikan bulan puasa (sampai) Lebaran ini harus stok pangan dimonitor secara ketat," ujar Zulhas.
Pemantauan ketat ini mencakup distribusi dari tingkat produsen hingga pasar tradisional dan ritel modern. Dengan pengawasan berlapis, pemerintah berharap dapat mencegah praktik penimbunan maupun gangguan pasokan yang berpotensi mengerek harga.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi pengendalian inflasi pangan, terutama karena sembako merupakan komponen utama dalam pengeluaran rumah tangga.
Koordinasi Lintas Sektor dan Program Pendukung
Dalam keterangannya, Zulhas juga menyinggung sejumlah program lain yang turut menjadi perhatian pemerintah, seperti makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes).
Penguatan koperasi desa dinilai penting untuk memperpendek rantai distribusi, sehingga harga barang kebutuhan pokok bisa lebih terkendali. Dengan distribusi yang efisien, biaya logistik dapat ditekan dan harga jual tetap stabil.
Selain itu, perhatian terhadap pengolahan sampah juga menjadi bagian dari agenda yang dibahas dalam rapat tersebut. Hal ini menunjukkan pendekatan pemerintah yang komprehensif, tidak hanya fokus pada harga pangan, tetapi juga tata kelola lingkungan dan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Isu Energi dan Dampak Geopolitik Global
Selain Zulhas, Presiden juga memanggil Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk rapat membahas sejumlah isu terkait energi terutama setelah adanya krisis di kawasan Timur Tengah (Timteng).
Bahlil melaporkan kondisi terkini bidang energi, terutama setelah Angkatan Laut Iran menutup Selat Hormuz sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Selat Hormuz merupakan salah satu choke point yang vital di wilayah Asia Barat, terutama untuk negara-negara eksportir minyak ke negara-negara tujuan di Asia.
"(Laporan kepada Bapak Presiden, red.) mungkin menyangkut dengan kondisi terkini, geopolitik ya, menyangkut dengan penutupan Selat Hormuz, Iran, karena ini juga antisipasi tentang pasokan minyak dunia, karena bagaimana pun kita masih melakukan impor sebelum lebaran," ujar Bahlil.
Situasi geopolitik tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi global, termasuk harga minyak yang dapat berdampak pada biaya distribusi barang. Karena itu, pembahasan energi menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas harga sembako menjelang Lebaran.
Kenaikan harga energi dapat berdampak langsung pada biaya transportasi dan logistik pangan. Oleh sebab itu, pemerintah melakukan antisipasi sejak dini agar gejolak eksternal tidak memicu tekanan harga di dalam negeri.
Dengan instruksi tegas kepada Menko Pangan dan koordinasi bersama kementerian terkait, pemerintah berupaya menjaga stabilitas ekonomi selama Ramadhan hingga Idul Fitri 2026. Upaya ini diharapkan mampu memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap tersedia, terjangkau, dan tidak mengalami lonjakan harga di tengah meningkatnya permintaan musiman.